Mengetahui Sejarah, Ciri-ciri, dan Struktur Virus

Kita mungkin sering mendengar istilah virus. Kita mengenalnya dari berbagai macam penyakit yang diakibatkan olehnya. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan salah satu contoh penyakit ganas yang kita kenal yang disebabkan oleh virus. Flu burung juga merupakan penyakit akibat virus. Virus ini menyerang ternak unggas. Polio, influenza, dan rabies pun merupakan contoh-contoh penyakit lain yang  disebabkan oleh virus. Selain itu, masih banyak lagi kasus yang berhubungan dengan virus.

Sebenarnya, apakah virus itu? Mengapa virus dapat menyebabkan berbagai penyakit? Apa saja manfaat virus? Bagaimana ciri-ciri, sifat, dan struktur virus? Lalu, mengapa virus tidak mempan oleh antibiotik? Bagaimana cara menanggulangi penyakit akibat virus? Bagaimana peran virus dalam kehidupan manusia? Nah! Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, simak uraian berikut ini.

Penelitian mengenai virus terus berjalan dan semakin meningkat ketika di abad ke-20 ditemukan mikroskop elektron. Mikroskop ini dapat memperbesar gambar pantulan objek yang sangat kecil hingga jutaan kali. Oleh karena itu, dengan menggunakan mikroskop ini kita dapat melihat virus.

Sejarah penemuan virus

Selama ratusan tahun, manusia dibingungkan oleh penyakit-penyakit yang menyerang manusia, hewan, maupun tumbuhan tanpa mengetahui penyebabnya. Misteri virus mulai terkuak ketika pada tahun 1883 seorang ilmuwan Jerman, Adolf Meyer, meneliti penyakit mozaik pada tembakau. Penyakit tersebut ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna kuning pada daun tembakau.

Kemudian, Adolf Meyer melakukan percobaan untuk mencari penyebab penyakit ini. Dia menyemprotkan ekstrak daun tembakau yang terkena penyakit mozaik pada tanaman yang sehat. Ternyata, tanaman tembakau yang sehat tertulari penyakit mozaik. Namun, ketika melihat ekstrak daun tembakau di bawah mikroskop cahaya, Meyer tidak dapat menemukan adanya mikroba yang menginfeksi. Berdasarkan hal itu, dia menduga bahwa penyakit mozaik disebabkan oleh bakteri berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat di bawah mikroskop cahaya.

Setelah itu, penelitian dilanjutkan oleh Dimitri Ivanowsky pada tahun 1892. Ivanowsky menyaring ekstrak daun tembakau pada saringan porselen yang dirancang untuk menyaring bakteri. Ternyata hasil saringan ekstrak tersebut masih menyebabkan penyakit pada tembakau. Dari penelitian tersebut, Ivanowsky menyimpulkan bahwa penyakit mozaik tersebut disebabkan bakteri patogen (penyebab penyakit) berukuran sangat kecil atau zat kimia yang diproduksi oleh bakteri tersebut sehingga dapat lolos dari saringan bakteri.
Penelitian lanjutan dilakukan oleh ahli mikrobiologi dari Belanda bernama Martinus Beijerinck pada tahun 1897. Dari hasil percobaannya, Beijerinck mengambil kesimpulan bahwa organisme yang menyerang tanaman tembakau hanya dapat hidup pada makhluk hidup yang diserangnya. Kesimpulan ini didapat setelah Beijerinck menemukan bahwa organisme

penyebab penyakit mozaik ini tidak dapat berkembang biak di medium pertumbuhan bakteri. Beijerinck juga menduga bahwa organisme tersebut bukan bakteri karena ketika dia memasukkannya ke dalam alkohol, organisme tersebut tidak mati dan tidak tampak seperti bakteri. Akan tetapi, Beijerinck belum berhasil menemukan strukturnya dan belum dapat menentukan jenis makhluk tersebut.
Teka-teki penyebab penyakit mozaik ini baru terjawab pada tahun 1935 setelah ilmuwan dari Amerika Serikat bernama Wendell Meredith Stanley berhasil mengkristalkan makhluk penyerang tanaman tembakau tersebut. Kemudian, makhluk tersebut dinamai virus mozaik tembakau (Tobacco Mozaic Virus).

Ciri-ciri Virus

Menurut para ahli Biologi, virus merupakan organisme peralihan antara makhluk hidup dan benda mati atau jembatan antara benda mati dan makhluk hidup. Hal ini karena virus mempunyai sebagian ciri-ciri makhluk hidup dan sebagian ciri-ciri benda mati.

Virus sebenarnya merupakan partikel submikroskopik penginfeksi yang terdiri atas selubung protein dan asam nukleat ( RNA atau DNA). Virus dapat mengalami mutasi dan reproduksi, tetapi tidak dapat melakukan metabolisme. Virus tidak memiliki membran pada tubuhnya, tidak memiliki ribosom untuk membuat protein, tidak memiliki sitoplasma, dan tidak memiliki sumber energi.

Virus tidak dapat tumbuh atau pun bergerak. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam tubuh inangnya. Kesederhanaan virus inilah yang menyebabkan virus dikategorikan sebagai peralihan dari benda mati ke makhluk hidup atau jembatan benda mati dan makhluk hidup. Berikut ini ciri-ciri virus secara lebih terperinci.
  • Virus tidak memiliki syarat sebagai sel karena tidak mempunyai membran dan organel-organel metabolik yang merupakan komponen penting pada sel hidup (misalnya ribosom).
  • Virus hanya dapat bereproduksi di dalam tubuh makhluk hidup.
  • Tubuh virus terdiri atas kulit yang berupa protein dan bahan inti, yaitu RNA (Ribo Nucleated Acid = asam ribonukleat) atau DNA (Deoxiribosa Nucleated Acid = asam deoksiribonukleat).
  • Ukuran tubuh virus sangat kecil, hanya berkisar 0,05 μm - 0,2 μm (1 mm = 1/1000 μm). Coba bandingkan dengan ukuran sel prokariot (seperti bakteri) yang berukuran 0,2 - 10 μm dan sel eukariot (seperti sel hewan) yang berukuran 10 - 100 μm. Oleh karena itu, virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
  • Bentuk virus bervariasi, ada yang berbentuk batang, silindris, bulat, kubus, oval, atau seperti huruf  T. Bentuk virus ini dapat digunakan untuk mengklasifikasikan (mengelompokkan) virus.
  • Virus dapat dikristalkan seperti halnya benda mati.

Struktur Virus

Bagian utama tubuh virus terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat ( RNA atau DNA) dan selubung protein (kapsid). Materi genetik yang dimiliki virus dapat berupa molekul tunggal atau molekul ganda asam nukleat yang berbentuk lurus atau melingkar. Adapun kapsid terdiri atas sejumlah sub-unit kapsomer. Kapsomer merupakan kumpulan polipeptida (protein). Jumlah molekul protein kapsomer berbeda-beda pada setiap jenis virus. Kapsid kemungkinan berasal dari protein inang. Kapsid ini memberikan bentuk pada tubuh virus.

Beberapa virus, seperti virus herpes, virus rabies, dan virus AIDS memiliki struktur tambahan berupa kapsul pembungkus atau amplop. Amplop ini tersusun dari lipoprotein yang kemungkinan berasal dari plasma membran inang atau membran inti sel inang. Letaknya menyelubungi kapsid dan fungsinya untuk membantu virus menginfeksi inang.

Pada beberapa jenis virus terdapat ekor di bagian luar tubuhnya. Ekor ini terbentuk dari glikoprotein (protein dan karbohidrat) yang kemungkinan terbentuk dari amplop. Beberapa virus menggunakan ekor ini sebagai alat untuk menempel pada inang.

Saat suatu virus masuk menempel dan masuk ke dalam tubuh inang, tubuh inang itu akan terinfeksi. Ada dua jenis infeksi yang dilakukan virus terhadap tubuh inang. Jenis infeksi tersebut bisa berupa infeksi akut dan juga infeksi kronis. Infeksi akut berlangsung dalam jangka waktu cepat tetapi infeksi ini berpotensi untuk fatal. Kemungkinan akibat dari infeksi akut ini juga bisa beraneka ragam. Bisa sembuh seketika tanpa kerusakan apapun (sembuh total); bisa sembuh dengan kerusakan (cacat); bisa berlanjut ke infeksi kronis; bahkan bisa berlanjut pada infeksi kronis. Infeksi yang kedua, yaitu infeksi kronis merupakan infeksi virus yang berkepanjangan. Risiko infeksi ini, gejala penyakitnya bisa muncul kembali. Penyakit-penyakit yang disebabkan infeksi kronis sangat berujung pada kematian.

Virus dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk, ukuran, ada tidaknya membran pembungkus, jenis serangannya, atau pun jenis asam nukleatnya. Pengelompokkan ini berguna dalam menentukan cara penanggulangan penyakit yang disebabkan virus dan mencari kegunaan virus itu sendiri. Berdasarkan jenis asam nukleat yang dimilikinya, ada virus yang memiliki RNA saja dan ada virus yang hanya memiliki DNA saja. Virus yang memiliki RNA disebut juga ribovirus.

0 Response to "Mengetahui Sejarah, Ciri-ciri, dan Struktur Virus"

Poskan Komentar

wdcfawqafwef